Seribu Puisi Untuk Kartini

Posted April 14, 2008 by Fira Riswiyandi
Categories: Poetry

Selamat Datang Kawan…

Setiap kata yang engkau goreskan,

Setiap pesan yang engkau titipkan,

Adalah jiwa bagi mereka yang hilang.

Bantulah mereka yang hilang,

tuk menemukan jiwanya kembali pulang.

 

Bantulah kawan…

Melalui kata dari jiwa bagi jiwa yang lain.

seribu puisi untuk Kartini.

Dari Kartini…

Oleh Kartini…

dan untuk Kartini…

Advertisements

The Animal School

Posted July 3, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Article

Alkisah binatang-binatang memutuskan bahwa mereka harus berbuat sesuatu yang heroic untuk mengatasi masalah “dunia baru”. Mereka pun mendirikan sebuah sekolah. Mereka menggunakan sebuah kurikulum kegiatan yang terdiri atas berlari, memanjat, berenang dan terbang. Untuk memudahkan administrasi, semua binatang mengambil semua mata pelajaran.

             Bebek ahli sekali dalam berenang, lebih baik sebenarnya dibandingkan gurunya, dan memperoleh hasil yang bagus sekali dalam pelajaran terbang, tetapi ia sangat buruk dalam berlari. Karena ia lambat dalam berlari ia harus tinggal sesudah sekolah usai dan juga melepaskan pelajaran berenang untuk berlatih lari. Ini diteruskan hingga kakinya yang berselaput pecah-pecah dan kemampuan renangnya menjadi sedang-sedang saja. Tetapi kemampuan yang sedang-sedang saja dapat diterima di sekolah, jadi tak seorang pun khawatir soal itu selain si bebek.

 

             Kelinci memulai sebagai murid terpandai di kelas dalam pelajaran berlari, tetapi mengalami gangguan mental karena harus belajar berenang.

 

             Tupai ahli sekali dalam memanjat sebelum ia frustasi dalam pelajaran terbang karena gurunya menyuruhnya memulai dari tanah ke atas dan bukan dari puncak pohon ke bawah. Ia juga menderita kejang-kejang pada kaki dan tangannya karena latihan yang berlebihan dan ia mendapat C untuk memanjat dan D untuk berlari.

 

             Elang adalah anak yang suka menimbulkan masalah dan harus didisiplin dengan keras. Dalam pelajaran memanjat ia mengalahkan semua yang lain menuju puncak pohon, tetapi ia berkeras menggunakan caranya sendiri untuk tiba di sana.

 

             Pada akhir tahun ajaran, seekor belut abnormal yang dapat berenang dengan luar biasa dan juga dapat berlari, memanjat dan terbang sedikit mendapat nilai rata-rata tertinggi dan mengucapakan pidato perpisahan.

 

             Anjing padang rumput tidak diterima di sekolah dan menentang pungutan pajak karena tata usaha sekolah tidak mau menambahkan pelajaran menggali dan bersembunyi pada kurikulum. Mereka menitipkan anak-anak mereka pada luak dan belakangan bergabung dengan tikus tanah dan mamut tanah untuk memulai sekolah swasta yang berhasil.

 

 

Dr. R.H. Reeves.

Jalan

Posted July 3, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Poetry

Sebuah jalan yang panjang dan sepi

Kulalui dalam kegelapan dan aku tersandung

Jatuh dan bangun, dan tersaruk, kakiku

Menjejak dingin batuan dan kering daunan

Seseorang dibelakangku juga menjejak batuan, dedaunan :

Jika langkah kuperlambat, ia melambat

Jika aku berlari, ia pun berlari. Aku menoleh : tak ada siapa-siapa

Segalanya gelap dan tak berpintu

Belok dan kuputari lagi sudut-sudut ini

Yang senantiasa menuntunku ke jalanan

Dimana tak seorang pun menungguku, tak seorang pun mengikutiku,

Dimana aku mengejar seseorang, yang tersaruk

Jatuh dan bangun, dan saat menoleh untuk memandangku

Ia akan berkata : tak ada siapa-siapa.

 

 

O.P.

Sepasang tubuh

Posted July 3, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Dear Diary

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

Adalah sepasang ombak

Dan malam adalah lautnya.

 

                 Sepasang tubuh berhadap-hadapan

                 Adalah sepasang batu

                 Dan malam adalah gurunnya.

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

Adalah sepasang akar

Menjalar ke pusat malam.

 

                 Sepasang tubuh berhadap-hadapan

                 Adalah sepasang pisau

                 Dan malam mengguriskan kilatnya.

 

Sepasang tubuh berhadap-hadapan

Adalah sepasang bintang jatuh

Di langit kosong cakrawala.

 

O.P.

KETIKA TUAN K MENCINTAI SESEORANG*

Posted May 15, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Article

“Apa yang Anda lakukan,” tuan K ditanya, “jika Anda mencintai seseorang?” “Saya akan membuat konsep dari dia,” kata Tuan K., “dan berusaha membuat, dia mirip dengannya.” “Siapa? Konsepnya (yang mirip dengan orangnya–red)?” “Bukan,” kata Tuan K, “orangnya.”

*) “Wenn Herr K. einen Menschen liebte”, dari Geschichten vom Herrn Keuner, dalam Kalendergescichten, Bertolt Brecht, Rowohlt, 1960, hlm 129-130.***

Ketika kita mencintai seseorang, konon, kita selalu punya kecenderungan untuk “membentuk” orang yang kita cintai sesuai dengan isi kepala kita. Kita tidak perlu berdebat soal ini, sebaiknya.. :-). Nanti seperti Brower pernah tuliskan dalam sebuah eseinya, pada saat atmosfir sebuah percakapan mulai “menajam”: “Rasanya kita sedang meluncur di lapangan es yang licin dan berbahaya”. Jadi baiknya, kita nikmati saja “sentilan” Tuan K di atas, sebagai satu hal yang bisa membuat kita tertawa kecil sambil berpikir ulang: benarkah?.

 

HANOMAN DI PRAMBANAN

Posted May 15, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Poetry

saat Hanoman sang raja kera
diam-diam menyerahkan cincin Rama
Sinta tahu dia akan selamat
dan Rahwana akan kalah

sementara ketujuh anak Hanoman duduk
di depan teve di rumah dan menonton
film kartun jepang sedang istri Rahwana
memasak nasi dengan ikan asin dan suami Sinta
menyopir kijang usangnya sebagai taksi liar dari Yogya

di Prambanan busur-busur emas berkilauan
cinta akhirnya menang dan para penari
membungkuk dengan anggun di hadapan tamu-tamu
untuk foto digital yang penghabisan

membungkuk di hadapan tamu dari belanda
dari jepang perancis dan jerman sebab
orang indonesia hanya menginjak tempat pertunjukkan
mewah di depan candi suci Prambanan
itu sebagai penari atau pelayan

yang lain terlalu mahal

                                                                                            Martin Jankowski

Erich Fromm

Posted May 15, 2007 by Fira Riswiyandi
Categories: Dear Diary

Sekarang ini kita menjumpai individu yang berperilaku seperti manusia yang bergerak otomatis, yang tidak tahu dan tidak mengerti dirinya sendiri, dan satu-satunya orang yang dikenalnya adalah orang seperti yang seharusnya, yang obrolan tanpa maknanya menggantikan percakapan yang komunikatif, yang senyum sintetisnya menggantikan tawa yang asli, dan yang perasaan putus asanya menggantikan rasa nyeri yang asli. Dua pernyataan dapat disampaikan sehubungan dengan individu ini. Satu adalah bahwa ia menderita kerusakan spontanitasdan individualitas yang kelihatannya tidak dapat disembuhkan. Sekaligus dapat dikatakan bahwa ia pada dasarnya tidak berbeda dengan jutaan orang seperti kita yang berjalan di muka bumi

Erich Fromm